Kotaku, kota warkop..
Ponorogo adalah surganya pengopi. Di kota reyog yang damai ini, hampir di setiap ruas jalan baik itu jalan protokol maupun gang kecil, warung kopi dapat kita jumpai dengan mudah. Mulai dari angkringan hingga warung permanen, dari yang sekedar memanfaatkan jalur pedestrian nganggur hingga yang dilengkapi LCD Projector + Screen buuesar beserta wireless access (hotspot). Jarak antar warung pun banyak yang hanya dalam hitungan jengkal. Hebatnya, deretan warkop-warkop ini semuanya rame, gak ada yang sepi. Mayoritas customernya adalah para remaja usia sekolahan-kuliahan dengan motor-motor kerennya.

Entah sudah berapa lama atau sejak kapan hobi ngopi ini marak di kalangan masyarakat terutama nom-noman di Ponorogo. Kalau boleh saya istilahkan, kegiatan ini di sini sudah menjadi budaya, karena memang hampir tidak ada anak muda pribumi yang tidak pernah ngopi. Definisi ngopi itu sendiri dari sudut pandang saya, menyesuaikan dengan kondisi di sini adalah nongkrong di warung kopi bersama teman sepernongkrongan dalam waktu yang tidak hanya beberapa menit, sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan sambil minum minuman yang tidak harus kopi. Bisa es teh, es suplemen, susu jahe, dll.
Lalu, mengapa warkop-warkop itu begitu laku, lebih-lebih di kalangan remaja?
Pertama, bagi mereka ngopi bukan hanya sekedar membasahi tenggorokan, menghilangkan haus, maupun menetralkan rasa kebelet nyruput para koppiers yang sudah addicted. Namun lebih dari itu, aktivitas ini sudah menjadi ajang sosialisasi ampuh. Berbagai macam informasi update selalu tertukar dalam interaksi di sini. Ide dan gagasan juga seringkali terlahir dari diskusi-diskusi sederhana di tempat-tempat seperti ini. Positif dan negatifnya muatan, tergantung individu dan kelompoknya masing-masing, gak beda dengan social network modern sekalipun.
Faktor kedua adalah keterjangkauan harga. Untuk nongkrong berlama-lama di warkop, tidak perlu menenggelamkan terlalu dalam tangan ini ke kocek. Cukup sewu-rongewu, paling banter goceng. Sangat pas bagi mereka yang mayoritas memang belum berpenghasilan sendiri. Bandingkan dengan tempat nongkrong yang lain semisal di mall, resto, karaoke dll.
Terakhir, ora ono hiburan liyo, minimnya sarana rekreasi-hiburan maupun eksplorasi diri di kota kecil semacam Ponorogo ini. Di saat capek, penat dan jenuh, pelariannya ya hanya teman, terutama sing ra duwe pacar, ra payu hahaha… Dan kalau sudah bareng teman, tanpa makan atau minum sesuatu, rasanya kurang njedhug…
Semoga saja banyak nilai-nilai positif yang bisa disimpan dari menjamurnya warung kopi ini. Baik itu sisi perekonomian para penjual, maupun perkembangan dan pergaulan para remaja pelanggannya. Bagaimanapun, duduk santai wal ngopi jauh lebih baik dari pada kegiatan-kegiatan liar semacam balapan, apalagi ngedrugs. Eman-eman.. Lebih joz lagi kalau sebelum ngopi sinau dulu, Mantabh Jo! Sinau opo? yo sinau pelajaran sekolah to Le… (batin-e cah-cah: sinau opo sik usum? hahaha)
Begitulah, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi
“Kop-3″ ku Berlanjut.
Tiba-tiba saya dipanggil ke ruang dialog. Di situ sudah ada reporter cuantik paporit saya, Prita Laura, yang sudah siap mewawancarai saya…
Prita Laura: Sebelumnya selamat ulang tahun masbro, semoga tambah suipp semuanya..
Janmbuh: Amin.. tengkyu2..
P: Apa yang sudah anda dapatkan dengan kop 3 ini?
J: Mungkin banyak, mungkin juga tidak. Tapi paling tidak berbagai hal maupun peristiwa2 yang telah saya jalani dan saya alami sepanjang tahun kemarin, semakin mengingatkan saya bahwa sesebentar apapun kita hidup di dunia, kita harus senantiasa berusaha untuk mempunyai arti, baik untuk diri kita sendiri kelak maupun untuk orang-orang di sekitar kita. Dan seperti yang sering saya tulis sebelumnya, bahwasannya kehidupan ini juga mempunyai “hidup”. Jadi jangan terlena, apapun yang terjadi harus diterima dengan syukur ikhlas. Itu kata pak kyai idola saya lho, Ustadz Yusuf Mansur.
P: Oooo gitu.. Kalau harapan untuk masa mendatang?
J: Sederhana saja, saya hanya ingin saya beserta seluruh keluarga senantiasa dalam perlindungan Allah, diberiNYA kesehatan agar rizkiNYA yang barokah dapat terus mengalir, amiin.
P: kok Naif?
J: Yo ben, hehehe…
P: Wkwkwk… trus bagaimana dengan target?
J: Sebenarnya saya tidak biasa dengan target. Yang penting selalu melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, hasil bagus anggap saja sebagai bonus.
P: Kalau keinginan pribadi?
J: Hmm… jangka pendek saya ingin segera melihat anak saya pergi ke sekolah. Insyaallah tahun ajaran baru mendatang. Anak saya cerdas, super enerjik, cuma agak ngalem. Semoga saja nanti kalau sudah sekolah bisa sedikit berkurang ngalemnya, walaupun kadang-kadang sebenarnya dingalemi anak itu ya seneng hehe… Jangka panjang, saya ingin membangun usaha sampingan lagi, selain yang sudah berjalan sekarang. Ada rencana untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar, dan semoga SDM nya pun bisa katut. Semoga saja bisa terwujud.
P: Lainnya?
J: Ada, tapi pribadi, rahasia. Hahaha…
P: wahwah.. OK I think its enough, terima kasih banyak. Ada lagi mungkin yang ingin disampaikan?
J: Oh ya, terimakasih buat semua kerabat dan teman yang telah mengirimkan ucapan selamat plus doa, baik secara langsung, sms, fesbuk dll. Saya yakin semua kebaikan akan terbalas kebaikan, jadi semoga anda semua juga mendapatkan imbal balik dari doa-doa penuh kebaikan itu, amin..
——————*************************—————————-
Saya baru mau nyalami reporter cantik itu saat tiba-tiba terdengar suara adzan dari musholla rumah sakit ini… dan saya pun terbangun.
Waduuuuuh.. ternyata cuma mimpi ketemu mbak Prita
(setting: Kamar Dahlia A1 RSUD Dr. Hardjono S)
Autonomy
Kalau memang merasa tidak bisa akan sesuatu yang sebenarnya kita bisa, ataupun sebenarnya menjadi tanggung jawab kita, sebaiknya kita belajar supaya bisa. Menyuruh orang lain untuk mengerjakannya, sekali dua kali boleh saja sepanjang masih dalam pengertian kita juga belajar. Akan tetapi jika terus-terusan menggantungkan kepada orang lain tanpa ada kemauan dari kita untuk bisa, itu sama saja dengan kita bunuh diri. Bagaimana jika suatu saat mereka tiba-tiba pergi?
Catatan Akhir Tahun
Sebuah ungkapan lawas, sepakbola adalah olahraga terpopuler di negeri ini dan bukan tidak mungkin di banyak negara lain di penjuru dunia. Populer karena semua lapisan masyarakat mengenalnya dan sebagian besar dari mereka menyukai, memainkan dan akhirnya menggemarinya, bahkan cenderung fanatik walaupun hanya sebatas sebagai penonton, penikmat, fans, suporter atau apapun lah namanya.
Timnas U-23.
sumber gambar: images.google.com
Karena fanatisme inilah seringkali seseorang melakukan sesuatu hal yang oleh orang kebanyakan bisa saja dianggap aneh, lucu, tidak masuk akal, dan sebagainya. Contoh nyata di sekitar kita saja, fenomena bonek. Mereka secara sukarela dan penuh pengorbanan dan kadang kenekatan yang kelewatan, mendukung kemanapun tim kesayangan mereka bertanding dengan resiko yang tidak kecil, ada kalanya berurusan dengan nyawa. Awam tentu saja berpikir, “gek ngono kuwi gaweyan opo?”.
Contoh lain yang lebih sederhana, tetangga saya sendiri yang seorang petani dengan kesibukan sampingan sebagai penjual kerupuk. Dia selalu menyempatkan nonton setiap ada tayangan langsung sepakbola di TV. Jika siarannya dini hari, dia rela nyegat dengan begadang semalaman. Tentu saja esok harinya terlalu ngantuk untuk ke sawah apalagi ngider-ne kerupuk dagangannya. “Ke sawah bisa besok-besok, kerupuk juga seminggu masih bagus”, elaknya saat sang istri mengingatkan.
Ujung harapan dari sebuah fanatisme adalah prestasi dan gelar. Orang akan sangat gembira, bangga, dan bersuka cita manakala tim kesayangannya mampu berprestasi, lebih-lebih menjuarai kompetisi bergengsi. Sebaliknya, jika tim yang didukungnya mengalami kegagalan, bermain buruk, kalah, dsb, mereka akan sangat frustasi, jengkel, marah, bahkan kadang anarkis. Dan inilah yang sedang dialami oleh sebagian besar atau mungkin hampir seluruh penggemar tim nasional Indonesia atau istilah kerennya Tim Garuda, termasuk saya.
Terakhir kalinya Garuda meraih gelar kompetisi resmi adalah medali emas SEA Games Manila 1991 atau 20 tahun yang lalu. Dan saya mungkin termasuk generasi awal yang belum pernah merasakan euforia juara tersebut. Bukan karena usia saya belum genap 20 tahun
, tapi lebih karena 20 tahun yang lalu, saya yang belum lulus SD belum memiliki alokasi memori yang cukup untuk merekam momen juara itu dengan sempurna. Memori 90an saya hanya berkutat tentang bermain, bermain dan bermain, dengan sesekali mengibaratkan saya sendiri sebagai Yusuf Ekodono, Mustaqim, Totok Anjik, Putu Yasa, dll.
Dari pandangan saya, sebenarnya suporter tidak menginginkan sesuatu yang muluk-muluk. Saya pribadi juga tidak peduli dengan wacana PSSI era 10 tahun lalu yang berkoar akan membawa indonesia ke pentas dunia pada tahun 2022. Mampu merajai kawasan Asia Tenggara saat ini saja bagi saya sudah merupakan sesuatu yang luar biasa membanggakan. Dan dalam dua event terakhir yang digelar tahun ini, yakni AFF Cup dan SEA Games, angan-angan itu nyaris saja terwujud. Nyaris dan nyaris. Menggemaskan, bikin geregetan dan sungguh disayangkan karena keduanya kita kalah di final padahal telah menunjukkan permainan menawan sepanjang road to final.
Dan yang lebih membuat geregetan lagi tentu saja kondisi persepakbolaan nasional kita saat ini yang sedang kacau balau. Kita tahu sebenarnya banyak sekali pemain kita yang mempunyai bakat dan skill yang terhitung tinggi, minimal untuk level regional. Mereka perlu kompetisi yang bagus untuk terus mengasah bakat dan skill tersebut. Begitu juga dengan para “calon” pemain yang saat ini bertebaran di berbagai kelompok umur. Namun alih-alih kompetisi, kepengurusan di organisasi yang seharusnya mewadahi kompetisi saja karut marut tidak karuan. Kalau begini terus menerus, skill itu akan hilang, mentalitas tidak akan terbentuk dan tentu saja tim nasional yang merupakan tolok ukur sekaligus muara kompetisi akan semakin lama lagi puasa gelar.
Jika saya boleh sedikit sok tahu, akar masalahnya adalah orang-orang yang berada di dalam kepengurusan yang sedang berjalan pada suatu ketika, tidak pernah mempunyai visi kebersamaan nasional dalam membangun sepakbola. Mereka hanya mau menerima orang-orang tertentu, dari kelompoknya sendiri, dan mempunyai motivasi untuk menguntungkan diri dan kelompoknya itu, sementara progres prestasi jalan ditempat. Dan parahnya, penolakan-penolakan yang terakumulasi dalam waktu yang lama akhirnya membuat kelompok lain memutuskan untuk membangun arena sendiri, membuat kompetisi tandingan. Begitu pula yang terjadi saat ini ketika tampuk kepemimpinan dan kepengurusan telah berganti. Beginilah kalau sepakbola, atau olahraga pada umumnya, sudah dirasuki dengan spirit-spirit di luar konteks keolahragaan. Bahkan politik, yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan bola, ikut-ikutan “bertanding”.
Jika kondisi seperti ini tidak segera teratasi, bisa dipastikan prestasi kita akan berjalan mundur. Kita akan semakin jauh tertinggal dari tim-tim tradisional semacam Thailand dan Singapura, dari Philipina yang para pemain naturalisasinya tentu semakin padu, maupun dari tetangga terdekat, Malaysia, yang barisan pemain mudanya sanggup menghancurkan harapan “nyaris” kita di dua even terakhir, yang tentu saja para pemain muda mereka akan semakin matang.
Pun demikian dengan para pemain. Mereka yang sedianya berusaha meningkatkan skill dan mentalitas, niscaya akan terlantar. Sayang sekali sebenarnya jika pemain-pemain sekelas Diego Michiels, Andik Vermansah, Egi Melgiansyah, Ferdinand Sinaga, dll yang berbakat luar biasa tersebut, jika bakatnya terbuang sia-sia akibat kompetisi yang tak tertata. Apalagi jika sudah menyangkut masalah non teknis semisal konflik di klub, gaji telat, tawuran, keroyok wasit, dll, itu sudah bisa dipastikan akan menghancurkan pula mentalitas mereka, menjerumuskan mereka ke dalam dunia sepakbola urakan seperti pada jaman baheula.
Belum lagi ancaman sangsi dari federasi-federasi di atas PSSI. FIFA sudah mewanti-wanti bahwa konflik di PSSI ini harus segera terselesaikan paling lambat pada bulan Maret 2012. Jika tidak, maka otomatis masalah ini akan terbawa di Rapat Komite Asosiasi. Jika sampai itu terjadi, sangsi buat Indonesia tinggal menunggu ketok palu. Indonesia bisa saja terkena larangan bermain di level internasional, baik itu timnas maupun klub. Sebuah kerugian besar tentunya.
Seharusnya, dan ini mungkin yang diharapkan mayoritas pecinta bola tanah air, dua kubu yang “bertikai” sedapat mungkin bersedia duduk bersama, berbicara, sehingga ditemukan solusi yang lebih bagus untuk kompetisi yang terbelah dan perpecahannya bahkan merembet sampai ke level klub ini. Tapi selama kepentingan-kepentingan kelompok masih ditonjolkan, pasti akan sulit didapatkan titik temunya.
Memang susah kalau otak manusia sudah terlalu penuh akan racun-racun uang dan kekuasaan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana memajukan, memperkaya dan memperkokoh kekuasaan ia dan kelompoknya, apapun caranya, tanpa memperdulikan tujuan sebenarnya dari apa yang didudukinya, dalam hal ini sepakbola nasional.
Dan khususnya kita-kita yang hanya merupakan penggemar dan penonton proletar, sekali lagi kita hanya bisa berharap walaupun agak setengah mustahal, agar para elite segera “baikan” sehingga segala persoalan dan perselisihan bisa ditemukan jalan keluarnya, dan efek buruk yang ditimbulkan sebisa mungkin dicegah. Yaah.. walaupun sambil agak melongo menahan liur karena ngempet lebih lama lagi keinginan untuk menyaksikan Garuda mengangkat trofi juara….
Ayo Bangkit Indonesia!!!
Distorsi Indonesia
Lagi enak-enaknya bernostalgia sama lagu-lagu lawas masa SMA, gak sengaja nemu satu lagu yang sebenarnya gak bagus-bagus amat tapi kalau direnungkan liriknya masuk banget sama kondisi Indonesia saat ini.
Lagu yang sudah ada lebih dari 10 tahun yang lalu ini langsung mengingatkan saya pada berbagai kasus yang melanda negeri kita tercinta. Mulai dari korupsi di kalangan pejabat yang merugikan negara dan rakyat hingga trilyunan rupiah, hingga tawuran antar kelompok mahasiswa PEKOK / berotak dengkul yang berujung pada kerusakan fasilitas yang sebenarnya sangat mereka perlukan.
Ahh… kasihan sekali Indonesia…

Ahmad Band – Distorsi
Maunya selalu memberantas kemiskinan
Tapi ada yang selalu kuras uang rakyat
Ada yang sok aksi buka mulut protas protes
Tapi sayang mulutnya selalu beraroma alkohol
Yang muda mabuk, yang tua korup 2x
Korup terus, mabuk terus
Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini
(Merdeka…!!)
Maunya selalu menegakkan keadilan
Tapi masih saja ada sisa hukum rimba
Ada yang coba – coba sadarkan penguasa
Tapi sayang yang coba sadarkan
Sadar aja nggak pernah
Setiap hari mabuk….
Ngoceh soal politik
Setiap hari korup
Ngoceh soal krisis ekonomi
Perut kekenyangan bahas soal kelaparan
Kapitalis sejati malah ngomongin soal keadilan sosial
Selalu monopoli!
Ngoceh soal pemerataan
Setiap hari tucau
Ngoceh soal kebobrokan
Pliss Pakdhe… Sumber Kencono jangan di-Flores-kan
———- PO Flores, sempat merasakan masa kejayaan sebelum mengalami kecelakaan maut dengan banyak korban (tabrakan dengan kereta di Palur Karanganyar). Masyarakat marah dan memprotes keras kepada PO Flores dengan cara mencegat dan merusak PO Flores, sehingga akhirnya PO in terpaksa harus menghentikan operasi. Belakangan, muncul EKA-MIRA sebagai penggantinya (dari manajemen yang sama) ———-
Sejak kecelakaan maut antara bus AKAP Sumber Kencono vs minibus Isuzu Elf di by-pass Mojokerto Senin (12/09) dinihari kemarin, perbincangan masyarakat Jatim tentang musibah tersebut masih terus bergulir hangat. Mulai dari kupas tuntas kejadian, kondisi korban dan suasana batin keluarganya, selidik kronologi mencari sebab musababnya, hingga berbagai pro-kontra mengenai keberadaan PO Sumber Kencono sendiri.

(sumber gambar: kompas.com)
Telah ada keterangan resmi dari pihak yang berwenang, dalam hal ini ditangani langsung oleh Polda Jatim, mengenai kronologis kejadian ini, sekaligus telah ditentukan pihak-pihak yang dianggap lalai. Kesimpulannya, dalam kasus yang menewaskan 20 orang ini, bus Sumber Kencono dinyatakan sebagai korban (detik surabaya).
Meski demikian, kontroversi seputar PO Sumber Kencono masih terus bergulir kencang. Mereka yang tidak ‘gelap mata’ dan terus mengikuti perkembangan seputar peristiwa ini serta mempelajari dengan seksama, dan juga mereka yang mengerti seluk beluk PO ini tentu saja masih bisa menerima jika bus-bus sumber kencono tetap diperbolehkan beroperasi di jalur Surabaya – Jogja. Hal ini juga diperkuat dengan tidak berkurangnya jumlah penumpang yang memilih bus ini paska kecelakaan (okezone.com).
Akan tetapi banyak diantara masyarakat yang telah terlanjur trauma dan menginginkan PO ini dibekukan. Hal ini juga yang membuat Gubernur Jatim, Soekarwo, melayangkan surat kepada pemerintah pusat agar mencabut seluruh izin operasional PO Sumber Kencono (surya-online). Sebuah langkah yang menurut saya amat tergesa-gesa dan sangat tidak seksama (hanya mencoba memandang kasus ini dari ‘sudut sempit di dipan bilik saya’)
Pertanyaannya adalah apa yang menjadi pertimbangan utama sehingga Pakdhe Karwo secepat itu menyurati pusat?
Apakah karena kecelakaan tragis Mojokerto kemarin? Bukankah polisi telah menerangkan dengan gamblang bahwa bis sumber kencono W 7181 UY bukanlah pihak yang bersalah?
Lalu, apakah karena seringnya terlibat kecelakaan? Sebaiknya Pakdhe sedikit belajar tentang rasio. Jumlah armada Sumber Kencono mencapai 70% dari seluruh armada jalur Surabaya Jogja, sehingga kemungkinan kecelakaan juga semakin besar. Yang perlu diperhatikan, saat terjadi kejadian luar biasa semisal kecelakaan, ekspos media terhadap Sumber Kencono jauh lebih besar dibandingkan PO lain.
Apa juga karena pengemudi yang ugal-ugalan maupun manajemen yang tidak bagus? Hmm.. jangan gitu Pakdhe. Bandingkan juga dengan PO lainnya. Satu-dua dari seratus, saya kira dimana-mana begitu. Ibaratnya sebuah sekolah, jika satu atau dua orang siswa dari sekolah itu bandel dan bebal walaupun seringkali dinasehati bahkan dihukum, sama sekali tidak bisa disimpulkan jika itu sekolahnya para preman, bukan?! Dalam hal ini manajemen sudah melakukan langkah-langkah yang cukup nyata untuk menanamkan kedisiplinan kepada para sopir dan awaknya. Diantaranya,
1. Secara regular Sumber Kencono mengirim para sopirnya ke DLLAJ untuk mengikuti pelatihan mengendarai.
2. Sumber Kencono, memberikan hadiah aneka barang elektronik bagi driver yang dalam setahun tidak mengalami laka.
3. Sumber Kencono, selalu rutin melakukan rapat dengan seluruh dan Kru dan tidak lupa selalu mengingatkan Kru nya untuk selalu hati-hati dan waspada di jalanan.
4. Semua tindakan preventif berupa video operasional kendaraan, banner Keselamatan, publikasi foto laka ditampilkandi garasi dengan tujuan membuat Kru untuk selalu mawas diri.
5. Tidak hanya melakukan controll pendapatan, Saat ini PO Sumber Kencono juga telah memaksimalkan tugas Controller dengan menambah tugas baru untuk menilai kemampuan operasional awak kru bus, mulai dari kecakapan mengemudi, kesopanan kru, maupun ketaatan terhadap peraturan lalu lintas.
6. Secara langsung Owner dan Top Management melakukan pendekatan intern kepada kru baik melalui SMS maupun langsung agar para Sopir selalu berhati-hati
Sumber: Bismania Community
Lalu apalagi? apakah karena armadanya dianggap tidak layak? Tolong diperhatikan Pakdhe, bahwa Sumber Kencono mengoperasikan bus-bus keluaran baru, bahkan sebagian besar masih kinyis-kinyis dengan body Legacy maupun Nucleus-3 (itupun kalau panjenengan paham berbagai jenis produk karoseri bus besar), banyak yang ber-AC pula. Paling tua adalah keluaran 2007. Untuk tahun sebelumnya, sudah payu, dilusur sama PO lain!
Perawatan pun sudah pasti, tidak mungkin memperkerjakan puluhan mekanik hanya untuk duduk-duduk di garasi!
Satu lagi, Sumber Kencono lah yang mempelopori pemasangan GPS Autotrack di armadanya, dengan salah satu tujuannya adalah untuk memantau kecepatannya.
Dengan demikian, saya sama sekali tidak menemukan alasan yang tepat untuk pembekuan SELURUH TRAYEK PO Sumber Kencono, yang direkomendasikan oleh yang terhormat Gubernur Jatim, Soekarwo, kepada Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Darat.
Sebaliknya, saya mohon pakdhe juga lebih ‘jernih’ dalam mengambil keputusan, terutama terkait konsekuensi yang harus ditanggung (ditanggung lebih dari seribu karyawan beserta keluarganya, bukan GOVERNOOR!!) jika PO Sumber kencono benar-benar dibekukan ijin usahanya.
Mau dikemanakan mereka? Bapak dengan entengnya bilang “Akan saya carikan solusinya”. Tapi ini kan baru janji, dan sebagaimana dengan janji-janji penguasa pada umumnya, kalau boleh saya katakan, tidak ada yang bisa kami ‘ugemi’.
Menyalurkan ke PO lain? Semudah itu kah? Haha.. semacam kue aja, dibagi-bagi dan pasti akan diterima. Koordinasi aja belum…
Selain itu, apakah anda bisa menjamin dengan ‘kekejaman’ yang anda rencanakan, tidak akan muncul permasalahan lain yang lebih pelik? Apakah anda berani menjamin tidak ada pemumpang yang keleleran serta sanggup menyediakan armada pengganti yang jumlahnya mencapai 70 % dari total trayek di jalur ‘gemuk’ ini?
Hmm… mungkin lebih bijak jika anda mengambil langkah2 yang lebih solutif, misalnya dengan memberikan pembinaan kepada perusahan otobus yang anda anggap bandel ini baik mengenai manajemen keseluruhan maupun personalia. Silahkan melakukan inspeksi maupun pengawasan untuk mencari mana kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Atau terlebih dahulu anda mengkaji kondisi sarana prasarana jalan raya yang jelas-jelas ini menjadi tanggung jawab anda. Sekedar referensi, sebaiknya anda baca dulu surat dari Bupati Mojokerto berikut ini. (http://surabaya.detik.com/read/2011/09/14/095803/1721995/475/bupati-surati-gubernur-evaluasi-jalan-di-mojokerto)
Mekaten, Pakdhe… pareeeng…
***** Saya memang hanyalah penggemar dan penikmat bus yang awam, silakan saja kalau dinilai tulisan ini terlalu subjektif *****
Pentingnya Motivasi
Motivasi adalah sumber energi bagi manusia. Jika seseorang merasa tidak ada lagi gairah dan keseriusan dalam berkarya, maka dia memerlukan energi tersebut. Dia memerlukan sesuatu yang bisa mendorong semangatnya supaya bisa semakin tancap gas, atau bahkan untuk bangkit kembali setelah mengalami keterpurukan.
Akan tetapi tidak ada provider yang memproduksi, menjual ataupun menyediakan motivasi ini untuk kita beli. Pemilik dari motivasi adalah diri kita sendiri. Kita hanya perlu mengetahui betul bagaimana cara mendapatkannya karena ia bisa datang dari mana saja dan melalui apa saja.

Di sebuah perusahaan, ada seorang direktur muda yang selalu menyimpan sebuah gambar kecil di dompetnya. Bukan gambar pacarnya ataupun keluarganya, melainkan gambar seekor anak kucing. Dia pernah bercerita bahwa dia terinspirasi oleh anak kucing itu.
Pada suatu hari ia menemukannya di bawah mobil di garasi rumahnya. Kucing itu basah kuyup dan terlihat menggigil kedinginan. Ketika pembantu rumah tangga mencoba untuk membuang anak kucing tersebut, dia terus mengeong dan kembali lagi ke bawah mobil. Pembantu kemudian membawanya ke pasar dengan harapan kucing itu tidak akan kembali, tetapi ternyata dalam waktu 15 menit kucing tersebut kembali ke rumah dan berada di bawah mobil lagi.
Mas direktur menjelaskan bahwa pada saat itu ia sedang mengalami kegundahan, merasa khawatir dengan penawaran produknya yang telah dikirim hingga sebanyak lima kali ke sebuah perusahaan terkemuka. Hingga satu bulan belum ada persetujuan maupun kontrak bahkan sekedar kontak dari perusahaan tersebut. Dia sangat berharap agar dapat mengikuti tender atau persaingan bahkan berharap produknya bisa diterima di perusahaan terkemuka tersebut. Jangka waktu satu bulan dengan berulangkali menelepon dan hanya dijawab dengan ‘belum ada keputusan’ benar-benar merisaukannya.
Di tengah kekhawatirannya, mas direktur tadi teringat dengan anak kucing tanpa harapan yang sangat ulet dan selalu kembali ke rumah meskipun ditolak, yang akhirnya dipelihara, diberi minum susu, dan dirawat dengan baik. Dari inspirasi sederhana ini, akhirnya mas direktur memiliki satu tekat bulat untuk mencoba sekali lagi mengontak perusahaan yang belum memberikan jawaban tersebut. Bahkan kemudian ia menjadi sangat bersemangat. Jika nantinya tidak dijawab dengan baik, dia akan mencoba menghubungi kembali keesokan harinya. Demikian seterusnya sampai ia mendapatkan jawaban dan alasan sebagai bahan evaluasi. Dengan ketekunan, keuletan dan semangat tinggi itulah akhirnya ia memenangkan tender bergengsi di perusahaan ternama tersebut.
Itulah… motivasi bisa kita ciptakan sendiri. Cerita di atas menunjukkan sesuatu yang simpel bahwa jika seseorang sudah lelah dengan berbagai usaha keras yang belum membuahkan hasil, dia hanya perlu membuka dompetnya, mendapati sumber inspirasi dan motivasinyanya hingga terciptalah suasana yang mengubah kelelahan menjadi hidup yang penuh dengan daya juang.
reff:
Soenarno, Adi. Drs. MBA 2006. Motivation Games for Management Training. ANDI, Djogjakarta.
Manfaat Buah Srikaya
Srikaya. Selama ini kami hampir selalu mengabaikan buah satu ini. Rimbun pohonnya di samping & belakang rumah, bersaing ketat dengan pohon mangga, dan buahnya yang mblasah turah-turah tiap musim, biasanya lebih banyak dinikmati oleh aneka manuk dari pada si empunya kebun. Namun siapa sangka buah ini ternyata menyimpan sejuta khasiat kesehatan yang sangat kita perlukan. Tengok saja kutipan yang saya ambil dari berita yahoo berikut ini.

Buah yang juga disebut sebagai custard apel atau sugar apple oleh pelaut Inggris ini, mengandung antioksidan, seperti vitamin C, yang membantu melawan radikal bebas dalam tubuh. Kalium tinggi dan magnesium yang terkandung dalam buah ini juga bisa melindungi Anda dari serangan penyakit jantung, seperti dikutip dari laman Times of India.
Jika ingin mempercantik kulit secara alami, konsumsilah srikaya secara rutin. Buah ini mengandung vitamin A yang bermanfaat untuk menjaga kulit, kesehatan rambut, serta meningkatkan fungsi mata.
Tidak hanya itu, buah yang biasa dijadikan selai dalam roti ini ternyata juga berkhasiat untuk mengontrol tekanan darah dan membantu menormalkan fungsi pencernaan, menyembuhkan sembelit, dan mengobati diare serta disentri.
Itu sebabnya, sangat penting untuk menyertakan buah ini dalam diet harian Anda. Buah ini mengandung magnesium yang tinggi, mampu menyeimbangkan air dalam tubuh, membantu menghilangkan asam dari sendi dan mengurangi gejala rematik serta radang sendi.
Bila sering mengalami kelelahan yang berlebihan, Anda bisa mengonsumsi srikaya. Sebab, kalium yang terkandung di dalamnya dapat membantu melawan kelemahan otot.
Buah ini juga bermanfaat untuk orang yang menderita anemia, karena buah ini tinggi kalori. Dan jika Anda ingin menambah berat badan, tak ada salahnya mengonsumsi srikaya secara rutin. Srikaya terkenal dengan kandungan gula alami, untuk itu baik jika buah ini dijadikan camilan atau hidangan penutup Anda.
—–
Hmm… tertarik untuk menikmati srikaya? datang saja ke tempat saya, silakan makan sepuasnya… (jangan sekarang, belum musim
)
Antisipasi panas pada laptop uzur
Bagi anda yang telah bertahun-tahun terbiasa menggunakan laptop, atau istilah bares-nya bagi anda yang laptopnya sudah termasuk tua
, ada baiknya anda memberi perhatian lebih pada partner kerja anda tersebut. Hal ini karena laptop yang telah berumur akan mempunyai tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap terjadinya kerusakan.

Laptopku yang masih prima di usia senja
Perangkat yang paling rawan adalah penyimpan data utama yakni hardisk. Sudah beberapa kali saya menjumpai laptop berusia senja yang tiba-tiba hardisknya tidak bisa dibaca. Gejalanya adalah laptop tiba-tiba hank saat digunakan. Kadang masih bisa dihidupkan lagi akan tetapi tetap hang setelah sekian waktu. Kadang juga setelah hang dan direstart, tidak bisa booting ke windowsnya dengan keterangan tidak ditemukannya operating system, dan setelah dicek ke BIOS, ternyata hardisknya tidak terdeteksi. Wah… kan gawat kalau data-data penting yang ada di hardisk tiba-tiba lenyap begitu saja? Memang kadang-kadang hardisk error masih bisa direcovery. Tp kalau kerusakannya terkait fisik seperti akibat kepanasan, sepertinya akan sulit sekali untuk mengembalikan datanya.
Lha trus gimana cara mengatasi masalah ini? Hmm… bagi yang sudah terlanjur, sebaiknya anda mulai berusaha untuk mengikhlaskannya
Tapi bagi yang belum, bisa disiapkan langkah-langkah antisipasi agal hal buruk semacam ini tidak menimpa laptop anda dan tentunya akan berujung kerugian, atau setidaknya akan membuat anda lumayan mumet…
Yang saya contohkan di atas adalah kerusakan akibat suhu panas di dalam laptop. Karena itu antisipasinya juga terkait bagaimana caranya mencegah panas, minimal menguranginya sehingga tidak akan terlalu berbahaya bagi komponen.

Letak kipas
Penyebab utama yang seringkali mengakibatkan laptop kita menjadi cepat panas adalah kipas yang sudah tidak bekerja secara optimal. Standarnya, kipas harus berputar dengan rpm tertentu yang sudah diset oleh pabrikan dan disesuaikan dengan spesifikasi laptopnya. Akan tetapi penggunaan dalam jangka waktu yang lama bisa saja mengubah performa dari kipas tersebut. Akibatnya adalah putaran kipas menjadi lambat, tidak memenuhi putaran minimal yang diperlukan untuk mendinginkan laptop. Solusinya, ganti aja dengan kipas baru
Selain dari kualitasnya sendiri, performa kipas juga dipengaruhi oleh faktor dari luar terutama adanya debu yang menempel. Seiring usia pemakaian dan lingkungan kerja laptop yang bervariasi, maka debu atau kotoran dapat terakumulasi dan mengendap pada lapisan dalam laptop. Pada akhirnya endapan debu/kotoran ini dapat menghambat fungsi kerja kipas. Inilah yang bisa mengakibatkan panas tidak bisa mengalir ke luar. Ciri yang bisa dikenali dari keadaan ini adalah bunyi mendesing yang cukup kencang dari kipas saat laptop sedang bekerja dan puncaknya akan terjadi hang.
Jika ini yang terjadi pada laptop anda, jangan terburu – buru membawanya ke service center. Anda dapat memperbaikinya sendiri yaitu dengan membersihkan kipas pendingin/saluran ventilasi laptop anda. Hanya perlu sedikit keberanian untuk melakukan ini, karena memang kipas laptop berada di dalam, sehingga mau tidak mau anda harus membuka casing jika ingin melakukannya sendiri.
Setelah berhasil membuka casing (jangan lupa laptop harus dalam keadaan mati, tidak terhubung ke listrik, dan baterainya dilepas), bersihkan seluruh bagian dengan menggunakan kompresor tekanan rendah atau bisa juga dengan vakum. Pastikan semua debu yang menempel bisa dihilangkan.
Sebelum kembali memasang casingnya, anda juga bisa saja mematikan otomasi putaran yang ada pada kipas. Perlu diketahui bahwa kipas pada laptop secara default tidak berputar secara terus menerus. Akan tetapi hanya pada saat-saat tertentu, yakni saat processor dan komponen lain bekerja lebih keras karena adanya aplikasi yang kita jalankan. Kerja keras ini mengakibatkan suhu menjadi panas dan akhirnya kipas berputar. Kipas yang bekerja seperti ini biasanya mempunyai 3 kabel penghubung yani arus, ground dan sensor. Anda hanya perlu mematikan/memutuskan kabel sensor agar kipas berputar secara terus menerus tanpa terpengaruh kerja dari laptop sendiri. Biasanya kabel sensor ini berwarna selain merah, putih atau hitam, tp tergantung juga spesifikasi laptop. Konsekuensinya adalah konsumsi power supply yang lebih besar sehingga batteray pun akan lebih cepat habis. Akan tetapi sepertinya masalah batteray tidak begitu berpengaruh pada laptop uzur (wis biasa ngedrop
)

Cooler pad / pendingin eksternal
Antisipasi lain adalah dengan menggunakan cooler pad atau kipas pendingin eksternal. Walaupun terkesan agak ribet, tapi demi kesehatan laptop hendaknya faktor ribet sedikit dikesampingkan. Selain itu, hindari penggunaan laptop pada tempat-tempat dengan permukaan tidak rata, seperti kasur, kursi busa, dll karena dapat menghalangi / menutupi lubang sirkulasi yang biasanya terdapat di bagian bawah laptop.
Intinya, agar awet pastikan laptop selalu pada kondisi yang aman dari panas dan terdapat aliran udara yang bagus karena laptop sangat rentan terhadap panas, banyak masalah laptop yang muncul karena panas dan sebisa mungkin kita harus menghindarinya.
Salam oprek..



