Biting company adalah sebuah perusahaan distributor sunduk. Dulunya perusahaan itu sangat bonapit, bahkan menjadi salah satu yang dikategorikan raksasa di wilayah karesidenan mastrip. Banyak sekali pengepul dari seluruh penjuru negeri yang ambil dagangan ke situ.

Pada suatu ketika, Bandi Sutapir, boss perusahaan itu, menikah dengan seorang wanita selingkuhannya sebut saja namanya nyi blorong. Nampaknya si Bandi dari goa batu ini begitu tergila-gila kepada blorong yang sedang menyamar jadi cantik. Hingga segalanya, termasuk menceraikan istri sah nya, rela dilakukan untuk ngopeni blorong.
Sayangnya si Bandi agak kelewatan. Duwit pengepul yang seharusnya buat nomboki utang kulakan ke produsen sunduk katut dihabisken. Jadinya gak karuan. Utang gak bisa mbayar, menanggung uang pengepul pula. Pertama kali yang terimbas pastilah pengepul yang kehilangan uang selain karyawan yang gak bayaran.
Dalam posisi seperti itu, si Bandi tidak berusaha untuk mencari solusi, namun justru mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang intinya dia tidak mau bertanggungjawab dan ingin lari dari permasalahan. Berbagai opini dia lemparkan ke benak karyawan-karyawannya. Mulai dari adanya orang dalam yang nakal, penyebaran sunduk yang dibatasi areanya hingga merugikan, sales yang terlalu banyak, dll.
Karena tidak ada solusi, keadaan pun semakin memburuk. Pengepul marah karena stok gak ada sementara uang dah masuk. Bahkan ada diantara mereka yang menyumpahi segala. “Tertutuplah pintu rizki orang-orang yang mendzalimi orang lain dengan sengaja”, begitulah diantaranya.
Entah karena sumpah itu atau bukan, yang jelas Bandi seketika itu benar-benar berada dalam posisi yang sulit. Hampir semua karyawannya kemudian mengundurkan diri satu per satu. Terparah, blorongnya pun kaburrrr…. Bandi pun telah sedemikian tumpul akal dan hatinya, hingga yang terpikirkan olehnya hanyalah tinggal bagaimana mendapatkan uang banyak dengan cara apapun. Hingga akhirnya ia pun menjadi seorang pencuri dan bromocorah dengan memanfaatkan sedikit kecerdasannya.
Kecerdasan? ya, karena sebenarnya si Bandi ini adalah orang yang sedikit pinter, minimal jika dibandingkan dengan orang-orang yang biasa tidur di emperan toko. Sayangnya, kepintaran ini dimanfaatkan untuk minteri dan merugiken orang lain. Jika ilmu yang tak diamalkan laksana pohon yang tak berbuah, maka ilmu si bandi yang dipake mbromocorah ini ibarat pohon yang sedang dalam proses pembusukan di akar. Kelihatannya ijo royo-royo di daun, tapi sebentar lagi dapat dipastikan akan ambruk wal remuk.
Segawon dan Sulisang adalah dua orang karyawan Bandi yang tetap setia. Karena SDM yang terlalu rendah akibat volume otak yang gak genep seprapat cangkir sehingga gak cukup jika digunakan berpikir secara sehat, mereka lemah tak berdaya dan tak kuasa untuk mencari pekerjaan lain yang lebih barokah. Sikap pasrah orang males sedunia mereka kumpulkan dalam diri mereka sendiri. Diepek dhewe. Mereka pun cuek dengan tingkah laku bosnya yang semakin kelewat gila dalam mencelakai dan merugikan orang lain. Prinsip mereka adalah menjalankan pekerjaannya dengan baik tak peduli uang dari mana yang dipake buat nggaji nanti. Dengan sangat ngotot mereka bilang itu adalah uang halal yang diberikan sebagai gaji pekerjaan mereka yang (katanya) bener, terlepas bagaimana ulah si bos, bukan urusan mereka, katanya.
Silahkan saja jika mereka (merasa) bekerja bener dan berpikir seperti itu. Yang jelas, nogosari yang uempuk pulen wal kentul-kentul tur suedhep rasane itu pun, kalau ditaburi racun maut di dalamnya, pastilah si pemakan akan modiarr wal tewas, minimal kejet-kejet trus koma trus cacat otak, meskipun dia sendiri tidak tau dan tidak berniat menabur, bahkan tidak terpikir sedikit pun adanya racun itu.
Kini, para pengepul yang penuh kesumat hanya menunggu saat-saat rubuh dan tamatnya riwayat si pohon laknat, serta tewasnya dua makhluk bodoh wal guoblog akibat racun yang mereka ramu sendiri. Dan saat itu pasti akan datang. Pasti!!!
Kecuali mereka bersedia mengubah sikap dan kelakuan menjadi orang baik-baik, bertanggungjawab, tidak pengecut, mengetahui dan mengimplementasikan hak orang lain dan kewajiban dirinya, serta.. jujur.
________***________
Tulisan di atas tidaklah menyinggung kehidupan seorangpun, melainkan hanyalah cerita kiasan beberapa ekor binatang






Menerima semua jenis analisa data statistik.
March 5th, 2009 at 11:45 pm
Mampir mas. Tulisannya di blog ini bagus-bagus. Teruslah mengikat ilmu dengan membaginya. Semoga barokah. Amien.
@JanMbuh:
Amiin..
kalo teman2 yang berkunjung sih udah biasa, tp kalo pak Handaru yang bersedia pinarak, itu baru surprise…
March 24th, 2009 at 11:45 am
nice posting sob:)
sungguh dahsyat pesen moral yang di angkat
April 20th, 2009 at 8:44 pm
Haduuuuw critane niki kok meh podho tho karo kisah e tonggo q ? apa sing nulis tau nglakoni ya ? jangan2 malah enk kaitane kie hehehehe hehehe karo nyi bloronge …
October 31st, 2009 at 1:03 am
Волненье в сердце заражает кровь
June 5th, 2010 at 5:08 pm
sing pentig lek iso omong ning ra iso nglakoni percumah, berarti sama juga karo sing nglakoni
June 19th, 2010 at 8:04 am
sampeyan opo nglakoni to kang timun? kok sewot