Kemarin malam, aku sekeluarga mengadakan hajatan mitoni gadis kecilku Khailila. Jangan dipikir mitoni adalah pesta pora dengan nyembelih ular piton seperti kata Mbah Dipo, namun ini merupakan salah satu dari buanyak sekali rangkaian gerbong adat masyarakat Jawa.
Mitoni digelar untuk merayakan tujuh bulan kelahiran seorang anak (tujuh = pitu), hampir sama dengan tingkeban yang menandai tujuh bulan usia kehamilan seorang ibu. Entah mengapa adat jawa memilih angka tujuh untuk peringatan-peringatan ini. Mungkin itu pula yang membuat Franck Ribery memilih nomor ini di Bayern (opo hubungane..?)

Dalam satu poin adat bernama mitoni ini saja, ada banyak sekali rangkaian ritual yang harus dikerjakan Lilaku, dan tentu saja tanpa aku ketahui apa maknanya. Mulai dari mandi kembang, masuk kurungan ayam, nginjak kue tetel alias jadah pulen 7 warna, memanjat 7 anak tangga yang terbuat dari batang tebu ireng, sampai dengan tedhak sinten alias menginjak dan berjalan di tanah sejauh 7 langkah. Lalu, coba bayangkan berapa banyaknya keseluruhan ritual yang dimiliki masyarakat Jawa dari keseluruhan jenis acara? kok ya apal menn orang-orang itu lho…
AKu sendiri pengennya mengadakan syukuran mitoni secara sederhana saja, tanpa ritual yang aneh-aneh. Namun apa boleh dikata, orang tuaku tidak ingin aku dicap “ora umum” oleh masyarakat. Gak nurut disalahkan, nurut kok gak sesuai dengan hati kecil. Akhirnya demi menghindari konflik yang tidak perlu ya terpaksa nurut, namun tetap dengan niatan syukuran saja, terserah orang-orang mau melakukan apapun.
Memang serba sulit menjadi generasi pertengahan, yang hidup diantara generasi dahulu, para sesepuh dan pinisepuh yang begitu tinggi menjunjung adat budaya, dan generasi masa kini, generasi mikrochip yang tentu saja mengedepankan logika sebagai landasan awal dalam berpikir.
Aku memang kurang sreg dengan sebagian adat Jawa ku meskipun aku terlahir sebagai Jawa tuss. Menurutku, banyak sekali diantara ritual-ritual jawa yang mempunyai makna dan tujuan yang kurang jelas, bahkan cenderung berbahaya.
Salah satu contoh nyata adalah keharusan pasang sesajen / seserahan / persembahan kepada ingkang mbaurekso di tempat-tempat yang dianggap wingit, oleh orang-orang yang punya hajat besar misalnya mantu. Isi sajennya adalah bahan makanan mentah, seperti telur, beras, kopi, dll. Katanya kalo gak nyajeni akan mendapat banyak kesulitan.
Lhadalah! Apa bukan bahaya ini namanya?
Emangnya yang bisa ngasih kesulitan dan kemudahan kepada seseorang itu siapa, kok doyan kopi? Aneh…
Ada juga seperti yang aku alami sendiri saat-saat kelahiran Lilaku dulu. Ada prosesi mengubur ari-ari yang harus dilakukan dengan disertai tuntunan orang yang dituakan. “Kakang kawah adhi ari-ari“. Itulah ungkapan Jawa untuk menyatakan bahwa air kawah / ketuban dan ari-ari adalah “saudara” sang jabang bayi. Ini sebagian masih sedikit bisa diterima mengingat mereka adalah bagian tak terpisahkan saat sang bayi masih dalam perut, meskipun tidak harus men-saudara-kan. Karena itulah mereka tidak boleh diperlakukan semena-mena. Yang aneh adalah disertakannya buku tulis dan pensil untuk dikubur juga. Gimana caranya belajar baca tulis di dalam tanah? Bingung…
Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bisa anda cari sendiri ![]()
Kita harus mengakui bahwa Jawa memang gudangnya adat budaya tradisional yang luhur, turun-temurun dan mengakar. Kita harus menjunjung tinggi warisan dari moyang kita tersebut karena sedikit hingga banyak ada nilai-nilai positip yang terkandung terutama tentang etika dan tata krama. Namun alangkah baiknya jika kita juga bisa menghilangkan adat-adat yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan.
Bagaimanapun, adat dan budaya hanyalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia. Sehingga lazimnya ciptaan kaum pastilah mempunyai berbagai kelemahan. Lain halnya dengan Agama yang merupakan ciptaan Yang Maha Esa Yang Maha Kuasa, dijamin jozz dan sempurna. jd mesti dinomorsatukan!!!
Hmm.. masih mau nyajen???






Menerima semua jenis analisa data statistik.
April 17th, 2009 at 11:02 am
sukseskan terus adat budaya bangsa Indonesia kita..
**tapi kok di reformasi?**
@JanMbuh:
ya itu tadi Kang, kalo ada yang berbenturan, masa kita mau mengorbankan diri kita sendiri?
April 17th, 2009 at 11:51 am
piton² ….
di daerah ku mase kental adat kaya gni ….
April 17th, 2009 at 12:34 pm
nama anaknya sampeyan keren Pak….
April 17th, 2009 at 3:16 pm
wah, dimana2 angka 7 emang keramat ya…
April 17th, 2009 at 8:17 pm
mengenai angka 7 ada makna tersendiri
tujuh = pitu
artinya pitulung >> memberikan keselamatan dan kemakmuran bagi keluarga
April 18th, 2009 at 10:12 am
dan budaya itu masih ada di daerah saya
April 18th, 2009 at 11:22 am
saya juga pernah mengalami kejadian serupa mas…
berbahagialah bagi suku jawa yang masih mempunyai adat yang sampai saat ini di junjung dan di kerjakan
*dan yang terpenting tolong jangan di reformasi*
biarlah adat dan agama berjalan beriringan
@JanMbuh:
Sebagian memang ada yang bisa beriringan, tp masih ada beberapa yang kress, mknya kita perlu mempertimbangkan
April 18th, 2009 at 12:37 pm
jaga kebudayaan adat jawa ini
April 18th, 2009 at 8:09 pm
Budaya itu juga ada di desa saya tapi sudah mulai terkikis kang..
Semoga anak pean menjadi anak yang solehah…
*ati2 diincar dafhy..
April 19th, 2009 at 1:46 am
mari lestarikan warisan budaya leluhur kita
April 19th, 2009 at 6:57 pm
weks.. kok lucu dedek khalila
April 20th, 2009 at 12:06 pm
wah selamat ya pak dedeknya udah 7 tahun eh 7 bulan dink
kirain tadi malah 7 hari kelahiran.
April 20th, 2009 at 12:07 pm
wah di Ponorogo masih kental budaya leluhur ya
selama tidak melanggar syariat agame ce sah-sah saja sip sip
April 20th, 2009 at 4:18 pm
wa… memang masih banyak yang mengikuti tradisi seperti itu, tapi juga banyak yang sudah meninggalkan karena dianggap ribet..