Ujian Akhir Nasional tingkat SMP baru saja dilaksanakan. Seperti biasa, banyak sekali cerita yang mengikuti. Mulai dari standar kelulusan yang dinaikkan, potensi ketidaklulusan siswa yang juga meningkat, hingga berbagai kekhawatiran akan adanya kecurangan yang mungkin dilakukan oleh beberapa pihak berkepentingan. Dan poin terakhir inilah yang biasanya menyita paling banyak perhatian.
Sumber gambar: banggundul.web.id
Seperti sudah menjadi rahasia umum, antara ujian nasional dan kecuragan adalah sesuatu yang beriringan serta sangat sulit dipisahkan. Bukan hanya oknum siswa saja yang berusaha keras mendapatkan nilai lulus dengan cara apapun,namun juga ada oknum pihak sekolah yang juga melakukan langkah-langkah tidak terpuji demi membantu oknum siswa. Sederhana saja, jika ada siwa yang tidak lulus, maka nama sekolah yang merupakan penyangga reputasi akan menjadi jelek. Jika telah demikian, maka segala sesuatu akan menjadi sulit. Sulit menjaring siswa, sulit melakukan promosi, dan lain-lain.
Sebenarnya telah dilakukan antisipasi terhadap hal ini, antara dengan adanya pertukaran pengawas ujian antar sekolah. Pengawas (dalam hal ini guru) tidak akan mengawasi ujian muridnya sendiri, melainkan bertukar tempat dengan pengawas dari sekolah lain. Akan tetapi tampaknya hal ini sia-sia saja. Karena komunikasi yang baik antara dua sekolah yang saling bertukar tempat bisa saja menghasilkan sebuah kesepakatan “damai” dalam mengawasi ujian. Sulit sekali dibuktikan bukti-bukti kecurangan ini. Namun manusia waras pasti akan mempunyai tengarai yang jelasss. Capeh dekkk…..
Pantas saja jika korupsi merajalela di negeri ini. Pantas saja berbagai masalah kronis yang melanda bangsa sangat sulit untuk diatasi. Lha wong ternyata budaya curang sudah ditanamkan sejak usia dini. Dan tak tanggung-tanggung, sponsor dari praktik kecurangan dini ini adalah para (oknum) guru! Sebuah profesi yang konon katanya begitu luhur, sampai-sampai mereka dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa, wajib digugu dan ditiru, sera berbagai gelar apik lainnya.
Para oknum siswa yang rata-rata masih bisa dibilang ingusan dalam hal pola berpikir, mungkin belum sadar bahwasannya apa yang mereka lakukan tersebut sangatlah merugikan. Hmm… bukankah malah menguntungkan karena mendongkrak nilai? Tunggu dulu. Jika nilai yang didapatkan bukanlah nilai yang sebenarnya alias hasil kecurangan, pastinya itu akan menjadi sesuatu yang tidak mbarokah-i. Dan jika berdasarkan nilai palsu itu pula nasib mereka selanjutnya berpijak, maka sepanjang hidupnya mereka ketidakbarokahan itu akan selalu menyertai. Inilah kerugian yang jaaaaaaaauh lebih besar dibanding sekedar nilai jeblok.
Bagaimana dengan oknum guru? Lebih berat lagi pastinya. Sungguh sayang jika pahala dan kebaikan yang dipunguti sepanjang tahun dari mengajar para siswa dengan ilmu berguna, justru hilang dalam sekejap di akhir tahun ajaran. Ya kalo cuma hilang, lha kalo tambahan dosanya buanyak?? Jika para siswa yang curang hanya akan menyangga dosa mereka sendiri, maka tidak demikian dengan gurunya. Mereka adalah serbuk mesiu sebab dan pemantik api sumber dari masalah ini. Oleh karena itu, segala akibat dari adanya ledakan kecurangan yang terjadi, sedikit banyak pasti mereka akan tertunjuk sebagai penyebab. Bukan hanya satu, tapi semua siswa yang melakukan kecurangan, mereka akan diharuskan untuk ikut mempertanggungjawabkan. Jika pun lolos dari pertanggungjawaban dunia, pastinya tidak akan demikian di SANA. Pasti!!!
Lalu bagaimana mengatasi masalah ini? Sulit memang. Ini bukan seperti membunuh ular, dimana cukup dipotong kepalanya, maka tubuhnya akan meregang. Namun ini merupakan masalah yang telah mengakar sehingga lazimnya mencabut rumput liar, kita harus membasahi tanah di sekitarnya pelan-pelan dan telaten agar semua airnya meresap ke tanah dan melunakkannya, baru kemudian dicabut pelan-pelan pula agar semua bagian akar bisa turut serta tercabut.
Artinya semua komponen yang terlibat dalam praktik ini harus dibenahi mulai dari awal. Mulai dari perangkat hingga sistem yang menunjang proses pembelajaran harus diperbaiki, disesuaikan dengan pola dan aturan yang ada, dan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya pula. Dengan demikian SDM yang dihasilkan pun akan menjadi baik, sehingga dalam setiap perhelatan ujian, tidak perlu lagi adanya langkah-langkah tidak perlu yang justru akan merendahkan harkat dan martabat kita kelak, di hadapan-NYA.






Menerima semua jenis analisa data statistik.
May 2nd, 2009 at 9:51 am
pertamaxxx….
nak gak kompromi paling okeh sing gak lulus pak
sebenarnya harus di hilangkan perilaku seperti itu
May 2nd, 2009 at 10:44 am
Itu kenyataan&doktrin yg ada di negri bbm ini.Bahwa kesuksesan pemblajaran ditandai dng nilai yg baex.Tdk peduli apakah anak didik paham&ngerti ato g,yg penting pas ada tes dpt nilai baex.
Mungkin ni tgs qt u/menghapus doktrin tsb dr pikiran bansa ini.
May 2nd, 2009 at 1:16 pm
setuju mas alief, tu dah rahasia publik.
guruku yang jadi pengawas di sekolah lain aja cerita kemarin juga ngajarin yang unas kok.
padahal kan tu pelanggaran.
tapi kalo situ baik sini baik kan gak ada yang ngelaporin. ya inilah indonesia.
May 3rd, 2009 at 6:32 am
Iya, bener mas, goal pendidikan dewasa ini adalah selembar ijazah, bukan personal ability. Hal inilah yang menyebabkan ‘menghalalkan segala cara’ menjadi hal lazim di Indonesia.
Menyedihkan!
May 3rd, 2009 at 10:37 pm
memeng dilematis mas…
itulah Indonesia kita-kita…
May 25th, 2009 at 7:43 pm
apa boleh buat,, yg penting lulus… ya jeleknya unas ya begitu… salam kenal
@JanMbuh:
Salam kenal jg Mas…
June 9th, 2009 at 1:16 pm
kecurangan di uan ki biasa kang… aku yo biasa nurun.. tapi jo keblasuk..
eh tapi kok ada banernya smp1 jetis? kui sekolahku lo??
June 22nd, 2009 at 11:22 am
yo lah.. wis gedhe.. wis ngerti dhewe resikone.
ra perlu dipekso, tp ngelingke iku wajib hukum-e.
aku makaryo nang smp1 jetis, mampir-o sambi reunian karo guru-guru..