“Harus pinter kalau pengin jadi dokter”
Hmm.. nampaknya jargon itu kini sudah tidak berlaku lagi. Yang lebih pas saat ini adalah Harus sugih biar bisa sekolah dokter. Kalau gak sugih, jangan ngimpi bisa masuk Fakultas Kedokteran yang konon prestige nya lumayan tuuinggi itu.
Dari hasil liput dan tayang salah satu setasiun tivi lokal jawa timur kemarin, Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya mematok harga sumbangan minimal 150 juta repis bagi yang berminat masuk ke sono walaupun pihak kampus sendiri berdalih bahwa besar sumbangan tersebut bukanlah acuan pertama dalam menentukan diterima atau tidaknya seorang calon mahasiswa.
Lhadalah! Seratus lima puluh juta itu kan bukan angka yang sedikit. Di kota kecilku ini, uang segitu sudah bisa dibelikan rumah cantik di kompleks perumahan dalam kota dimana tidak semua orang mampu dengan mudah untuk memenuhinya. Dengan kata lain, yen ora sugih tenanan yo ora duwe duwit sakmono. Lha trus gimana nasib siswa pinter-pinter yang sebenarnya sangat berbakat dan sangat ingin untuk menjadi dokter hanya saja duwitnya gak cukup?? Ya jelas hanya bisa mlongo…

Sumber gambar: http://ardhikawisnu.files.wordpress.com
Dari sudut pandang orang awam seperti saya, diluar kompleksitas materi pendidikan seorang calon dokter, sebenarnya yang diharapkan dari sebuah proses pendidikan kedokteran tentu saja adalah output yang bagus dan berkualitas, karena hal ini menyangkut lapangan dan sasaran profesi seorang dokter itu sendiri, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan dituntut mempunyai tanggungjawab yang sangat tinggi, mengingat mereka ini dalam bahasa kasarnya berurusan dengan nyawa.
Bagus tidaknya output secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas input, sarana dan prasarana pendukung serta proses yang membentuknya. OK lah kita percaya bahwa proses pendidikan yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi Negeri tersebut di tivi sudah bagus, kita juga agak percaya bahwa dengan 150 juta per mahasiswa akan bisa didapatkan, digunakan dan dimanfaatkan sarana dan prasarana yang amat sangat mendukung. Namun apakah bisa dijamin bahwa input yang masuk benar-benar memenuhi syarat?
Semoga saja iya. Semoga saja seleksi yang terjadi benar-benar merupakan seleksi kualitas. Mengingat nominal angka sumbangan tersebut secara otomatis akan memunculkan praduga yang mudah-mudahan salah bahwa yang sebenarnya terjadi adalah seleksi kuantitas kekayaan (orang tuanya). Karena jika sampai terjadi proses perekrutan yang salah, kelak yang akan menanggung akibatnya bukanlah pihak kampus, bukan juga orang tua yang ngasih sumbangan, tapi masyarakat, yang dalam hal ini menjadi customer mereka.
Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika masih ngekos di perantauan. Ada seorang dokter yang mangkal, eh, buka praktek di dekat rumah kosku. Sebut saja Dokter Paijo (ini juga bukan nama sebenarnya). Sebelum kapok, tiap kali bodiku mengalami engine error dialah yang menjadi jujugan. Namun anehnya dari beberapa kali tune-up ke dia, hasil diagnosanya selalu sama yakni radang tenggorokan, meskipun rasa sakitnya gak sama. Dan yang akhirnya membuatku kapok adalah saat terakir kali ke dia, vonisnya tetep radang tenggorokan padahal sakite beda dari biasanya, aku wae sampe lemas. Dan setelah ganti periksa ke dokter lainnya ternyata aku mengidap kekurangan cairan tubuh dimana terlambat sedikit saja bisa berakibat fatal. Wah.. yen nggugoni radang tenggorokan-e Paijo jathukno jadi opo aku??

sumber gambar: http://koncekijau.files.wordpress.com
………………………………
Itu hanyalah salah satu contoh dari kurangnya akurasi seorang dokter. Entah karena memang dia yang sedang salah, atau memang kompetensinya yang rendah akibat dari ‘low level output‘ seperti yang saya uraikan di atas. Diharapkan dengan pendidikan yang benar dari awal sampai akhir, pada masa mendatang tidak ada dokter-dokter seperti ini. Kalaupun masih ada yang tersisa, semoga saja mereka bisa segera berubah lebih pinter…






Menerima semua jenis analisa data statistik.
July 24th, 2010 at 7:49 pm
Pertamax Gan
July 25th, 2010 at 12:36 pm
Hahaha dan akhirnya banyak malpraktik disana sini. . .
Entah mungkin benar juga artikel diatas karena dokter ituu dolanan nyowo (lmao)
August 6th, 2010 at 2:32 pm
waduh… saya pernah ngalamain seperti itu OM
pernah dalam 1 hari saya pergi kedokter 2 kali
dengan analisa yang berbeda….
piye jal…